Balada Petani Tua Karya Muhammad Lutfi - Rubrik

Balada Petani Tua Karya Muhammad Lutfi


BALADA PETANI TUA

Dalam derai purnama
Tubuhnya menyanyi sepi
Kidung keberanian hambar
Menjadi ingatan pikun di air dan tikar
Tanah menyuarakan nama-nama batu
Yang berhamburan di tangan konglomerat
Bermega-mega perak dan intan berkilauan di hati mereka

Tikus sawah berlarian di rinai hujan
Bersuara seruling bambu
Mengecup butiran daun padi sampai kering
Beringas sudah masa mudamu
Kamu dihabisi oleh waktu

Kehebatanmu sudah tak terdengar
Nyaring dibungkus keriput badanmu
Istri dan anakmu masih cemberut
Perutnya bertanya-tanya:
“Kapan kami memuaskan hasrat kami?”
Bukanlah iming-iming harta dan belaianmu
Ajaranmu usang dirusak gelombang zaman

Di sebelah kursi masih berdiri kucing liar
Dengan taring menerkam
Memakan meja dari rak kayu dan almari
Bajumu sobek dikoyak kerumunan kecoa
Kecoa-kecoa lapar masih menunggu di depan tungku dapurmu
Sedangkan, dalam bara api
Kamu melihat dirimu sendiri terlena oleh duniawi
Bisik-bisik kenikmatan mengunjungimu
Mengantarkanmu pada pangkuan istrimu

Kamu bermain purnama malam ini
Di bawah atap reyot
Kamu salto berulang kali
Menarik kulit dan dagingmu
Sambil menghantam dinding-dinding yang runtuh

Bersemayamkan impian
Cita-cita dan harapan sirna menjadi air mata
Butiran padi dimakan hama
Gerobak dan traktor sudah diambil juragan
Dan hutangmu mulai berdatangan menghantuimu
O petani yang lugu
Dimanakah kejujuran yang kamu perjuangkan?
Apakah penipuan telah mereka tikamkan ke kamu?
Apakah kamu dijebak dalam kekalahan kembali?
Istrimu tetap duduk menunggu tungku masak di dapur
Ditemani kucing-kucing dan kecoa
Rumahmu tak pernah sepi

O harapan yang tinggal kepalsuan
Kini diri si petani mulai ragu untuk hidup
Lentera jiwanya lenyap di telan kelabu
Dan musnah dibakar riak kelesuan

Si anak mulai berani meminta rumah dan tanah
Perhiasan di bawah batu digalinya sendiri
Lubang-lubang itu berserakan
Bersama datangnya musim hujan
Yang tak kunjung pernah sirna

Kebunmu kering
Menyisakan panas dan debu
Sedangkan dirimu semakin kelabu, dan kerelaanmu disekap
Tanahmu kini tinggal bayangan
Menjadi bandara di samping sekolah kebanggaanmu
Yang dulu kamu lulus dari situ
Kamu mengenal tulisan, ejaan dan uang
Di situ pula kamu mengenal Sarti istrimu itu.
Kamu bertanya pada hari dan tahun
Pada bayangan di dalam cermin yang masih muda
Kamu bertanya:
“Apa yang harus kulakukan dalam penderitaanku kini,
Aku sudah mengalah tapi tetap dikalahkan.
Lalu apa gunanya moral dan keyakinan?”

Keraguan demi keraguan mulai menyelimuti pikiran
Kusut menghalau tiang yang kau dekap
Hilang sudah segalanya
Kamu bersimpuh pada makam kedua orang tuamu
Air matamu mengalir di kelopak bunga
Tiba-tiba istrimu datang dan menepuk bahumu
Kamu tersungkur tak sadarkan diri pada dua nisan

O si petani berkelana dalam sukma
Dia melihat gedung dan tanah di dunia terbalik
Bangunannya menjulang ke bawah
Mulai dari bawah langit, bawah tanah dan bawah air
Di sebuah pohon kamu melihat akar berlubang
Matamu menyusup jauh ke dalam
Ternyata,
O ternyata kamu melihat dirimu sedang berdekapan mesra di bawah purnama
Di samping kanan kiri meja riasmu
Terlihat anggur dan vas minuman dari jamrud
Bibirmu tersenyum
Mulai kembali daya hidup yang hampir saja pongah

Tetapi tetap saja luka di hatimu berbekas
Mengingatkan kembali
Saat pesawat mereka terbang mengusik tidur malam keluargamu

O petani
Sawahmu hijau kembali
Daun panen menyemaikan aroma pandan yang wangi
Sinar mentari memberi isyarat akan tanda-tanda ketulusanmu
Segeralah berlarian kamu menghalau burung-burung camar
Yang mencakar-cakar gubukmu
Menjulurkan lidah katak pada udara sawah di gubukmu

“Karmo, kamu harus lunasi utangmu.
Utangmu itu bagaikan dasbor di catatanku
Beruntung aku masih berbaik hati, kalu tidak
Nyawamu melayang saat itu kalau tidak kutolong
Bayar hutangmu sekarang juga!”

Suara sang juragan terasa jelas dan merubah senyumnya lagi
Hilang sudah kekayaan abadinya
Masalah yang datang menggebu
Menggerus dinding tebing di sukmanya
Rumah hilang, sawah musnah, dan perjuangannya selama ini
Hanyalah omong kosong belaka.

Dalam denyut nadi yang gemetar
Si Karmo duduk bersimpuh beralaskan kursi
Tumpuannya air mata
Dan dipangkunya sebongkah pengharapan

Dalam tetes air matanya,
Dia melihat cahaya terang
Menerpa dirinya
Mulai merasuki akal, pikiran, dan hati
Meresap ke sanubari dan pori-pori tubuh
Dirinya bangkit
Jalannya terang bagai lentera siang hari
Dari balik pintu rumah,
Anak dan istrinya datang bersujud di kaki Karmo
Sambil meneteskah air mata
Meminta maaf kepada Karmo
Begitulah jalan hidup seorang petani yang ikhlas, jujur dan penuh ketulusan
Dalam laku pengorbanan.

Surakarta, 27 Oktober 2017.

Biodata Penulis:

Muhammad Lutfi. Lahir di Pati, 15 Oktober 1997. Seorang Mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Tinggal di Desa Tanjungsari RT 01 RW.02, Kec. Jakenan, Kab. Pati, Jawa Tengah. Kontak: Email ajidika69@yahoo.com, nomor telepon 081225854416, facebook Muhammad Lutfi dan instagram jenarlutfi18.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *