Karya Puisi Ariq Aflah Riadi - Rubrik

Karya Puisi Ariq Aflah Riadi

DIRIMU RIMBAHANA

Hidungmu memang tidak setinggi hidungku, tapi disanalah pucuk syahdu rindu yang mengakar dari lembah matamu. Kerlingmu sedari dulu adalah momenku, nanti juga ‘kutakuti, hingga ‘ku menyadari berkaca pada korneamu membuat anak lidahku pasi

Kini aku memandangmu dari jauh, tapi tetap saja rerimbun alis matamu menyimpan kesejukan, reranting bulu matamu yang lentik membawa ketenangan dan lekukan senyummu sungguh meneduhkan.

Aku ingin terus menemumu, rimbahana.

ENIGMA DUNIA KITA


Dimana aku menyiasati malam dengan melipat rapi kesunyian. Di saat itu pula aku mulai tergugu, sehasta menyadari betapa kelunya keakuanku. Hingga tak pelak kiranya kau juga membatu bisu dan dunia kita, kini enigma berjuta tanda tanya

Apabila kau diam-diam menuntut rindu itu untuk memburam, ada baiknya terlebih dahulu kau pulang, memaafkan segala yang hilang bertualang, setelah itu menangislah sejadinya, cepat atau lambat aku yang kau tuntut itu, juga melakukan hal yang sama sepertimu

Namun jika kau masih mengutuk segala apa yang telah remuk. Maka liang kerinduan yang berusaha kau kubur akan terus menganga, dan lipatan malamku akan kusut jadinya. Terkutuklah dunia kita dengan kesunyian meriap di belantara enigma.

MELEPUH SEGALA PAHALA

Tubuh tak mampu lagi berdiri, kaki patah, tangan putus, azal di ujung lidah merenggut harap yang subur di tepi sungai doa

Melepuh segala pahala
Melepuh segala pahala

Terseok-seok menjinjing sesal yang dibawa kian kemari sambil merengek di bawah rintik peluh ayah ibu lalu tertawa di atas sejengkal tangis mereka

Melepuh segala pahala
Melepuh segala pahala

Awan hitam menggelapkan mata di ambang subuh menarik selimut kerena sejuk memagari diri dari tempat wudhu

Melepuh segala pahala
Melepuh segala pahala.

MUARA AIR MATA LAKI-LAKI


Di kamar sempit ini
Hanya mimpi yang lapang
Dan ruang kata-kata kian luang
Berkeliaran kertas puisi
Antaranya tersisa sebatang umur laki-laki
Yang luka-luka berlumur darah kopi   
Terbakar lagu-lagu sendu
Setelah kabar perempuannya hilang mengabur

Mengalir deras mata air
Mengairi kedua lembah pipi
Hingga tiba di ujung tanjung
Bermuaralah air mata amarah.

SETAN

Aku setan, mendiami nafsumu saban pagi, petang, malam
Kalang kabutlah kau mencari-cari Tuhan

Nama 'kan abadi pada nisan
Unggukan tanah mengubur angan-angan
Liang sempit, bau busuk dibungkus kafan

Azan berkumandang ...
Op, mau kemana? Kenapa gelisah?
Kini bukan waktunya lagi kau menghamba-mengharap surga
Jadi tunggu saja giliran meniti jembatan, 'kan membawa kau ke rumah nyaman atau jatuh ke api penghabisan.

Ariq Aflah Riadi. Lahir di Cerenti, 19 September 2000. Beralamat di Jln. Baru 41 Pekanbaru. Saat ini kuliah jurusan ilmu komunikasi di Universitas Riau. Pernah meraih juara harapan 1 pada event penerbitan antologi puisi tema cinta tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Poetry Publisher. Kontak: Nomor telepon 087799042467, instagram @ariqaflah19 dan email ariqaflah@gmail.com.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *